Tampilkan postingan dengan label Lifestyle. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lifestyle. Tampilkan semua postingan

Jumat, Juli 27, 2012

Arsitektur Metafora (Metaphor Architecture)

Metafora merupakan bagian dari gaya bahasa yang digunakan untuk menjelaskan sesuatu melalui persamaan dan perbandingan.
Proses Metafora dalam Arsitektur
Metafora berasal dari bahasa latin, yaitu “Methapherein” yang terdiri dari 2 buah kata yaitu “metha” yang berarti: setelah, melewati dan “pherein” yang berarti: membawa.

Secara etimologis diartikan sebagai pemakaian kata-kata bukan arti sebenarnya, melainkan sebagai lukisan yang berdasarkan persamaan dan perbandingan.

Pada awal tahun 1970-an muncul ide untuk mengkaitkan arsitektur dengan bahasa, menurut Charles Jenks dalam bukunya “The Language of Post Modern” dimana Arsitektur dikaitkan dengan gaya bahasa, antara lain dengan cara metafora.

Pengertian Metafora dalam Arsitektur adalah kiasan atau ungkapan bentuk, diwujudkan dalam bangunan dengan harapan akan menimbulkan tanggapan dari orang yang menikmati atau memakai karyanya.

Arsitektur yang Berdasarkan Prinsip-prinsip Metafora
  1. Mencoba atau berusaha memindahkan keterangan dari suatu subjek ke subjek lain.
  2. Mencoba atau berusaha untuk melihat suatu subjek seakan-akan sesuatu hal yang lain.
  3. Mengganti fokus penelitian atau penyelidikan area konsentrasi atau penyelidikan lainnya (dengan harapan jika dibandingkan atau melebihi perluasan kita dapat menjelaskan subjek yang sedang dipikirkan dengan cara baru).
Kegunaan Penerapan Metafora dalam Arsitektur

Sebagai salah satu cara atau metode sebagai perwujudan kreativitas Arsitektural, yakni sebagai berikut :
  1. Memungkinkan untuk melihat suatu karya Arsitektural dari sudut pandang yang lain.
  2. Mempengaruhi untuk timbulnya berbagai interprestasi pengamat.
  3. Mempengaruhi pengertian terhadap sesuatu hal yang kemudian dianggap menjadi hal yang tidak dapat dimengerti ataupun belum sama sekali ada pengertiannya
  4. Dapat menghasilkan Arsitektur yang lebih ekspresif.
Kategori Metafora dalam Arsitektur
  1. Intangible methaphors, (metafora yang tidak dapat diraba) metafora yang berangkat dari suatu konsep, ide, hakikat manusia dan nilai-nilai seperti : individualisme, naturalisme, komunikasi, tradisi dan budaya.
  2. Tangible methaphors (metafora yang nyata), Metafora yang berangkat dari hal-hal visual serta spesifikasi / karakter tertentu dari sebuah benda seperti sebuah rumah adalah puri atau istana, maka wujud rumah menyerupai istana.
  3. Combined methaphors (metafora kombinasi), merupakan penggabungan kategori 1 dan kategori 2 dengan membandingkan suatu objek visual dengan yang lain dimana mempunyai persamaan nilai konsep dengan objek visualnya. Dapat dipakai sebagai acuan kreativitas perancangan.
(Sumber: Setiawan, Agus. Herbal Plant Research Center in Karangpandan:Sebagai Tempat Wisata Edukasi Herbal. FT Arsitektur UMS. 2011)
100 out of 100 based on 99998 ratings. 1 user reviews.
Read More - Arsitektur Metafora (Metaphor Architecture)

Rabu, Juli 25, 2012

Desain RUKAN (Rumah Kantor) Minimalis Futuristik

Desain RUKAN (Rumah Kantor) Minimalis Futuristik. Rukan merupakan sebuah kata yang memiliki kepanjangan Rumah Kantor. Dimana di situ terdapat sebuah rumah dan kantor menjadi satu dalam satu bangunan. Untuk itulah ia disebut Rukan (Rumah Kantor) untuk mempermudah sebutan bangunannya.
RUKAN (Rumah Kantor) Minimalis Futuristik
RUKAN (Rumah Kantor) Minimalis Futuristik (Render and Concept © HEBSA Studio)
Read More - Desain RUKAN (Rumah Kantor) Minimalis Futuristik

Selasa, Juli 17, 2012

Material Bangunan Ramah Lingkungan

Pemanfaatan material bekas atau sisa untuk bahan renovasi bangunan juga dapat menghasilkan bangunan yang indah dan fungsional. Kusen, daun pintu atau jendela, kaca, teraso, hingga tangga dan pagar besi bekas masih bisa dirapikan, diberi sentuhan baru, dan dipakai ulang yang dapat memberikan suasana baru pada bangunan. Lebih murah dan tetap kuat.
Material Ramah Lingkungan
Material ramah lingkungan memiliki kriteria sebagai berikut menurut I Putu Gede Andy Pandy:
  1. tidak beracun, sebelum maupun sesudah digunakan
  2. dalam proses pembuatannya tidak memproduksi zat-zat berbahaya bagi lingkungan
  3. dapat menghubungkan kita dengan alam, dalam arti kita makin dekat dengan alam karena kesan alami dari material tersebut  (misalnya bata mengingatkan kita pada tanah, kayu pada pepohonan)
  4. bisa didapatkan dengan mudah dan dekat (tidak memerlukan ongkos atau proses memindahkan yang besar, karena menghemat energi BBM untuk memindahkan material tersebut ke lokasi pembangunan)
  5. bahan material yang dapat terurai dengan mudah secara alami.
Material yang ramah lingkungan menurut kriteria diatas misalnya; batu bata, semen, batu alam, keramik lokal, kayu, dan sebagainya. Ramah lingkungan atau tidaknya material bisa diukur dari kriteria tersebut atau dari salah satu kriteria saja, seperti kayu yang makin sulit didapat, tapi bila dipakai dengan hemat dan benar bisa membuat kita merasa makin dekat dengan alam karena mengingatkan kita pada tumbuh-tumbuhan.

Semen, keramik, batu bata, aluminium, kaca, dan baja sebagai bahan baku utama dalam pembuatan sebuah bangunan berperan penting dalam mewujudkan konsep bangunan ramah lingkungan.
Kaca Insulasi
Kaca Insulasi
Untuk kerangka bangunan utama dan atap, kini material kayu sudah mulai digantikan material baja ringan. Isu penebangan liar (illegal logging) akibat pembabatan kayu hutan yang tak terkendali menempatkan bangunan berbahan kayu mulai berkurang sebagai wujud kepedulian dan keprihatinan terhadap penebangan kayu dan kelestarian bumi. Peran kayu pun perlahan mulai digantikan oleh baja ringan dan aluminium.
Rangka Atap Baja Ringan
Rangka Atap Baja Ringan
Baja ringan dapat dipilih berdasarkan beberapa tingkatan kualitas tergantung dari bahan bakunya. Rangka atap dan bangunan dari baja memiliki keunggulan lebih kuat, antikarat, antikeropos, antirayap, lentur, mudah dipasang, dan lebih ringan sehingga tidak membebani konstruksi dan fondasi, serta dapat dipasang dengan perhitungan desain arsitektur dan kalkulasi teknik sipil.

Kusen jendela dan pintu juga sudah mulai menggunakan bahan aluminium sebagai generasi bahan bangunan masa datang. Aluminium memiliki keunggulan dapat didaur ulang (digunakan ulang), bebas racun dan zat pemicu kanker, bebas perawatan dan praktis(sesuai gaya hidup modern), dengan desain insulasi khusus mengurangi transmisi panas dan bising (hemat energi, hemat biaya), lebih kuat, tahan lama, antikarat, tidak perlu diganti sama sekali hanya karet pengganjal saja, tersedia beragam warna, bentuk, dan ukuran dengan tekstur variasi (klasik, kayu).

Bahan dinding dipilih yang mampu menyerap panas matahari dengan baik. Batu bata alami atau fabrikasi batu bata ringan (campuran pasir, kapur, semen, dan bahan lain) memiliki karakteristik tahan api, kuat terhadap tekanan tinggi, daya serap air rendah, kedap suara, dan menyerap panas matahari secara signifikan.
Batu Bata Ringan
Batu Bata Ringan
Kehalusan permukaan dan warna bahan bangunan sangat menentukan iklim mikro di sekitar bangunan, warna cerah dan permukaan licin adalah pemantul sinar matahari yang baik dan menaikkan suhu sekitar. Warna gelap dan permukaan kasar akan membantu meredam dan menyerap sinar dan panas matahari. Bahan bangunan berpori mudah meluncurkan panasndan meluncurkannya kembali jika suhu udara disekitarnya menurun. Sangat bijaksana jika memanfaatkan bahan-bahan bangunan alami seperti aslinya untuk pelapis dinding dan lantai luar.

Di samping itu diperlukan teknik insulasi yang baik untuk meredam pancaran panas genteng ke ruang di bawahnya (kasur ijuk sangat baik sebagai isolasi atap di bawah genteng daripada nylon wool). Dalam ruang atap yang tertutup rapat, terjadi udara yang lebih panas dari sinar matahari atau suhu udara luar. Panas pada ruang atap akan dipancarkan ke bawah ke langit-langit dan dipancarkan lagi ke ruang fungsional di bawahnya.

Dalam hal sanitasi, septic tank dengan penyaring biologis (biological filter septic tank) berbahan fiberglass dirancang dengan teknologi khusus untuk tidak mencemari lingkungan, memiliki sistem penguraian secara bertahap, dilengkapi dengan sistem desinfektan, hemat lahan, antibocor atau tidak rembes, tahan korosi, pemasangan mudah dan cepat, serta tidak membutuhkan perawatan khusus.
Biofil
Biofil
Kotoran diproses penguraian secara biologis dan filterisasi secara bertahap melalui tiga kompartemen. Media kontak yang dirancang khusus dan sistem desinfektan sarana pencuci hama yang digunakan sesuai kebutuhan membuat buangan limbah kotoran tidak menyebabkan pencemaran pada air tanah dan lingkungan.

Ikllim mikro di sekitar bangunan perlu dikendalikan dengan memanfaatkan tanaman hijau yang berdaun gelap dan lebat. Sangat ideal jika 30% – 70% volume ruang lahan bangunan terisi tanaman hijau dan 30% – 70% luasan permukkaan tanah tidak ditutupi material keras.

(Sumber: Setiawan, Agus. Herbal Plant Research Center in Karangpandan:Sebagai Tempat Wisata Edukasi Herbal. FT Arsitektur UMS. 2011)
Read More - Material Bangunan Ramah Lingkungan

Jumat, Juli 13, 2012

Inspirasi Desain Rumah Minimalis

Rumah minimalis memang banyak penggemarnya. Selain karena desain yang terlihat simpel namun tetap memperlihatkan nilai estetika yang elegan. Hampir rumah-rumah yang dibangun disetiap perumahan di Indonesia banyak yang menerapkan desain Rumah Minimalis. Karena selain mudah pengerjaannya juga masa pembangunannya lebih cepat. Hal itu dikarenakan desain rumah minimalis tidak ada ornamen-ornamen rumit yang menempel pada fasad rumah.


Berikut ini adalah contoh-contoh Desain Rumah Minimalis yang di Rancang oleh Agus Setiawan, ST. Seorang Junior Architect yang bekerja di sebuah kantor Konsultan Arsitek di Jakarta.
Desain Rumah Minimalis
Design, Concept and Rendering © Agus Setiawan, ST
Desain Rumah Minimalis
Design, Concept and Rendering © Agus Setiawan, ST
Desain Rumah Minimalis
Design, Concept and Rendering © Agus Setiawan, ST
Desain Rumah Minimalis
Design, Concept and Rendering © Agus Setiawan, ST
Desain Rumah Minimalis 3
Design, Concept and Rendering © Agus Setiawan, ST
Desain Rumah Minimalis 2
Design, Concept and Rendering © Agus Setiawan, ST
Desain Rumah Minimalis 1
Design, Concept and Rendering © Agus Setiawan, ST
Semoga desain-desain di atas dapat menjadi inspirasi bagi anda-anda yang suka dengan dunia arsitek dan dunia desain. Terimakasih..... (By: Agus Setiawan, ST)
Read More - Inspirasi Desain Rumah Minimalis

Selasa, Juli 10, 2012

Desain Interior Minimalis Kamar Anak

Sepertinya desain minimalis tak habis-habisnya untuk dibicarakan dan di kembangkan. Banyak dari bangunan-bangunan dan desain interior di Indonesia yang menganut gaya minimalis. Tentunya desain minimalis sudh di modifikasi sedemikian rupa oleh para Arsitek dan Desgn Interior. Selain simpel, desian minimalis juga mudah dalam pembuatannya dan meskipun simpel, tapi desain minimalis tetap terlihat elegan dan menawan. Selain simpel, desain minimalis juga terkesan bersih tanpa adanya ornamen-ornamen yang menempel.
Read More - Desain Interior Minimalis Kamar Anak

Minggu, Juli 08, 2012

Rancangan Arsitektur Pasif dan Arsitektur Aktif (Solar Cell)

Rancangan Arsitektur Pasif dan Arsitektur Aktif (Solar Cell). Penipisan cadangan minyak nasional akan menempatkan Indonesia sebagai negara pengimpor sumber daya energi ini dalam waktu dekat. Salah satu sektor penting yang sangat berpengaruh terhadap penggunaan bahan bakar minyak adalah bangunan, umumnya mengonsumsi BBM dalam bentuk energi listrik sekitar 30-60 persen dari total konsumsi BBM di suatu negara.
Solar Cell (Panel Surya)
Solar Cell (Panel Surya)
Untuk kawasan tropis, penggunaan energi bahan bakar minyak (BBM) dan listrik umumnya lebih rendah dibandingkan dengan negara di kawasan sub- tropis yang dapat mencapai 60 persen dari total konsumsi energi. Hal ini disebabkan oleh kebutuhan pemanas ruang di sebagian besar bangunan saat musim dingin. Sementara di kawasan tropis, pendingin ruang (AC) hanya digunakan sejumlah kecil bangunan. Meskipun demikian, penghematan energi di sektor bangunan di wilayah tropis semacam Indonesia tetap akan memberikan kontribusi besar terhadap penurunan konsumsi energi secara nasional.

Bangunan merupakan penyaring faktor alamiah penyebab ketidaknyamanan, seperti hujan, terik matahari, angin kencang, dan udara panas tropis, agar tidak masuk ke dalam bangunan. Udara luar yang panas dimodifikasi bangunan dengan bantuan AC menjadi udara dingin. Dalam hal ini dibutuhkan energi listrik untuk menggerakkan mesin AC. Demikian juga halnya bagi penerangan malam hari atau ketika langit mendung, diperlukan energi listrik untuk lampu penerang.

Penghematan energi melalui rancangan bangunan mengarah pada penghematan penggunaan listrik, baik bagi pendinginan udara, penerangan buatan, maupun peralatan listrik lain. Dengan strategi perancangan tertentu, bangunan dapat memodifikasi iklim luar yang tidak nyaman menjadi iklim ruang yang nyaman tanpa banyak mengonsumsi energi listrik. Kebutuhan energi per kapita dan nasional dapat ditekan jika secara nasional bangunan dirancang dengan konsep hemat energi.

Para arsitek di Barat memulai langkah merancang bangunan hemat energi sejak krisis energi tahun 1973, sementara hingga kini-30 tahun sejak krisis energi di negara Barat-belum juga muncul pemikiran ke arah itu di kalangan arsitek Indonesia.

A. Rancangan Pasif
Perancangan bangunan hemat energi dapat dilakukan dengandua cara: secara pasif dan aktif. Perancangan pasif merupakan cara penghematan energi melalui pemanfaatan energi matahari secara pasif, yaitu tanpa mengonversikan energi matahari menjadi energi listrik. Rancangan pasif lebih mengandalkan kemampuan arsitek bagaimana rancangan bangunan dengan sendirinya mampu “mengantisipasi” permasalahan iklim luar.

Perancangan pasif di wilayah tropis basah seperti Indonesia umumnya dilakukan untuk mengupayakan bagaimana pemanasan bangunan karena radiasi matahari dapat dicegah, tanpa harus mengorbankan kebutuhan penerangan alami. Sinar matahari yang terdiri atas cahaya dan panas hanya akan dimanfaatkan komponen cahayanya dan menepis panasnya.

Strategi perancangan bangunan secara pasif di Indonesia bisa dijumpai terutama pada bangunan lama karya Silaban: Masjid Istiqal dan Bank Indonesia; karya Sujudi: Kedutaan Prancis di Jakarta dan Gedung Departemen Pendidikan Nasional Pusat; serta sebagian besar bangunan kolonial karya arsitek-arsitek Belanda. Meskipun demikian, beberapa bangunan modern di Jakarta juga tampak diselesaikan dengan konsep perancangan pasif, seperti halnya Gedung S Widjojo dan Wisma Dharmala Sakti (Intiland Tower), keduanya terletak di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta.
Wisma Darmala Sakti (Intiland Tower) dan Gedung S Widodo , Jakarta
B. Rancangan Aktif (Solar Cell)
Dalam rancangan aktif (Solar Cell), energi matahari dikonversi menjadi energi listrik solar cell atau panel surya, kemudian energi listrik inilah yang digunakan memenuhi kebutuhan bangunan. Dalam perancangan secara aktif, secara simultan arsitek juga harus menerapkan strategi perancangan secara pasif. Tanpa penerapan strategi perancangan pasif, penggunaan energi dalam bangunan akan tetap tinggi apabila tingkat kenyamanan termal dan visual harus dicapai.

Strategi perancangan aktif dalam bangunan dengan panel surya belum dijumpai di Indonesia saat ini. Penggunaan panel surya masih terbatas pada kebutuhan terbatas bagi penerangan di desa-desa terpencil Indonesia.

Salah satu bangunan yang dianggap paling berhasil menerapkan teknik perancangan pasif dan aktif secara simultan dan sangat berhasil dalam mengeksploitasi penggunaan panel surya adalah bangunan Paviliun Inggris (British pavillion). Bangunan ini dirancang Nicholas Grimshaw & Partner, arsitek yang juga merancang Waterloo International Railway Station yang menghubungkan Inggris dengan Perancis melalui jalur bawah laut. Paviliun Inggris ini dibangun di kompleks Expo 1992 di kota Seville, Spanyol, sebagai perwujudan hasil sayembara tahun 1989 yang dimenangi arsitek tersebut.

Bangunan ini dirancang dengan pertimbangan iklim setempat, yaitu temperatur udara musim panas saat Expo dilangsungkan dapat mencapai 45 derajat Celsius, serta meminimalkan penggunaan energi yang mengemisi karbondioksida.

Beberapa strategi rancangan yang digunakan mengantisipasi kondisi udara ini adalah pertama, menggunakan tabir air pada dinding timur yang berfungsi sebagai filter radiasi matahari pagi untuk pendingin bangunan tanpa menghilangkan potensi penerangan alami pagi hari. Tabir air dijatuhkan dari dinding bagian atas bangunan mengalir di seluruh dinding kaca sepanjang 65 meter ke kolam di dasar bangunan.

Aliran air sebagai tabir dinding kaca berfungsi untuk pendinginan permukaan kaca itu sendiri serta menurunkan temperatur lingkungan di sekitar bangunan secara evaporatif. Humidity udara pada kawasan ini relatif rendah, sekitar 50-70 persen.

Dinding kaca terbuat dari bahan yang 20 persennya merupakan komponen keramik dan berfungsi mengurangi panas matahari tanpa mengorbankan cahaya yang masuk ke dalam bangunan. Penggunaan tabir air pada dinding timur ini mampu menurunkan temperatur udara di dalamnya hingga 10 derajat Celsius.

Sisi barat dinding bangunan dilapis kontainer berisi air yang berfungsi sebagai penyerap panas matahari sore. Panas yang diserap kontainer mengurangi pemanasan bangunan siang dan sore hari. Selanjutnya kontainer akan menghangatkan bangunan pada malam hari (temperatur udara luar malam hari cenderung rendah di bawah batas nyaman). Air panas dalam kontainer ini juga dimanfaatkan bagi keperluan pengguna bangunan.

Dinding bangunan sisi selatan diberi lembaran semitransparan yang diperkuat dengan konstruksi baja. Selain sebagai elemen estetika yang mencitrakan layar kapal yang menjadi simbol kejayaan Inggris di laut, juga berfungsi mengurangi radiasi panas sisi selatan.

Sejumlah 1.040 panel sel solar di bagian atap bangunan yang -membentuk semacam deretan layar kapal dan mampu menghasilkan 46kW daya listrik digunakan untuk sebagian besar keperluan listrik bangunan. Konstruksi panel sel solar ini diletakkan sedemikian rupa sehingga dapat melindungi atap terhadap radiasi matahari dari sisi selatan. Paviliun Inggris ini menggunakan energi listrik sekitar 24 persen lebih rendah daripada energi yang seharusnya digunakan bangunan yang dirancang tanpa strategi semacam ini.
Solar Cell dan Stadion Solar Cell, Taiwan
Langkah merancang bangunan hemat energi baik secara pasif maupun aktif seperti di atas perlu dicermati. Sudah waktunya para arsitek Indonesia memulainya. Jika dalam waktu dekat Indonesia menjadi negara pengimpor minyak neto dan harga BBM dan tarif listrik dalam negeri melambung, sebagian besar bangunan yang boros energi tidak lagi dapat berfungsi. Pemakai bangunan akan menemui kesulitan menanggung biaya listrik untuk lift, AC, pompa, dan peralatan lain, yang tinggi. Masih ada waktu untuk menghindari situasi buruk semacam ini dengan memulai merancang bangunan yang hemat energi, hemat listrik, sejak sekarang.

(Sumber: Setiawan, Agus. Herbal Plant Research Center in Karangpandan: Sebagai Tempat Wisata Edukasi Herbal. FT Arsitektur UMS. 2011)
100 out of 100 based on 99998 ratings. 1 user reviews.
Read More - Rancangan Arsitektur Pasif dan Arsitektur Aktif (Solar Cell)

Jumat, Juli 06, 2012

Desain Villa Minimalis yang Elegan

Desain Villa Minimalis Elegan.Villa itu identik dengan sebuah bangunan atau rumah yang ada di lereng gunung atau di daerah pegunungan. Villa sendiri adalah dari bahasa inggris yang berarti "rumah indah di luar kota". Villa kebanyakan bukan untuk tempat tinggal tetap, tetapi untuk tempat tinggal sementara pada waktu pemiliknya sedang berlibur ke tempat dimana villa-nya dibangun. Atau bisa juga Villa tersebut disewakan menjadi tempat penginapan bagi para wisatawan yang hendak menginap ketika sedang berlibur.
Desain Villa Minimalis Elegan
Villa Minimalis (Render and Concept © Agus Setiawan, ST)
Mempunyai Villa sendiri adalah impian bagi sebagian orang. Karena pada umumnya bangunan Villa adalah berupa bangunan yang bagus. Jadi villa bukan cuma sembarang bangunan yang menyerupai rumah biasa. Karena Villa kebanyakan terletak di daerah pegunungan, maka desain villa haruslah mampu memanfaatkan energi alam yang ada di sekitarnya.

Seperti contohnya cahaya matahari yang sangat diperlukan untuk kehangatan dikarenakan iklim di pegunungan yang dingin. Jadi bangunan villa tersebut harus memiliki bukaan-bukaan yang lebar agar mampu memanfaatkan cahaya matahari dengan baik dan tentunya dengan bukaan yang lebar tidak mengganggu privasi penghuninya. Bukaan yang lebar diperuntukkan untuk ruang-ruang yang memiliki sifat publik dan semi publik, seperti ruang tamu, ruang makan, balkon dan ruang santai/keluarga.

Dalam kesempatan ini penulis yang juga bekerja sebagai seorang Arsitek Junior di sebuah perusahaan konsultan Jakarta mencoba mendesain sebuah Villa yang bergaya Minimalis dan berkonsepkan Green Architecture. Dimana banyak terdapat bukaan-bukaan yang mampu memanfaatkan cahaya matahri masuk ke dalam ruangan. Bukaan tersebut terdapat pada ruang makan dan kamar pada lantai dua. Sedang area yang terletak di atas ruang makan adalah area terbuka untuk bercengkrama dengan keluarga dan sekaligus untuk menikmati indahnya alam pegunungan.

Bangunan tersebut banyak menggunakan material dari kayu yang dipadukan dengan struktur baja berbentuk pipa. Hal itu dilakukan agar bangunan villa terkesan hangat dan elegan, namun tetap memperlihatkan bangunan yang kokoh. Struktur baja pipa sendiri selain berfungsi sebagai penopang dari bangunan, juga berfungsi sebagai estetika. Karena penulis ingin membuat sebuah bangunan villa yang memiliki konsep struktur terbuka atau sttruktur baja yang diekspos.

Kemudian bangunan tersebut dibuat panggung atau mengambang di atas tanah. Hal itu dilakukan agar tidak banyak merusak kondisi tanah pada area tersebut. Karena dengan konsep panggung, tidak akan banyak dari tanah yang di cut and fill. Semua itu dilakukan untuk menjaga kelestarian alam dan menjaga konsep Green Architecture.

Untuk struktur panggung sendiri menggunakan beton. Kenapa dipilih beton sebagai struktur utama dalam menopang bangunan? Karena beton lebih tahan berada dekat tanah dan lebih mudah dalam perawatannya jika dibandingkan dengan baja.

Berikut ini adalah hasil rancangan dari Villa yang menggabungkan gaya minimalis dengan konsep green rchitecture dan Struktur baja ekspos.
Desain Villa Minimalis Elegan
Villa Minimalis (Render and Concept © Agus Setiawan, ST)
Desain Villa Minimalis Elegan
Villa Minimalis (Render and Concept © Agus Setiawan, ST)
Desain Villa Minimalis Elegan
Villa Minimalis (Render and Concept © Agus Setiawan, ST)
Semoga artikel dan gambar diatas dapat menjadi inspirasi desain bagi anda semuanya dan membawa manfaat bagi pembaca yang budiman.(By: Agus Setiawan, ST)
100 out of 100 based on 99998 ratings. 1 user reviews.
Read More - Desain Villa Minimalis yang Elegan

Kamis, Juli 05, 2012

Pengukuran dan Standar Green Architecture

Tingkat kehijauan suatu bangunan atau kawasan harus dapat diposisikan dalam level yang dapat dimengerti atau diukur oleh suatu acuan (standar) tertentu. Diperlukan suatu alat ukur dan tolok ukur untuk mengukur level kehijauan suatu bangunan atau kawasan. Berbagai acuan, alat ukur, dan standar telah banyak dirumuskan di negara-negara maju untuk mengukur tingkat kehijauan suatu rancangan kawasan dan bangunan.
Tingkat hijau suatu bangunan atau proyek diukur berdasarkan beberapa kriteria atau parameter, yakni efisiensi penggunaan energi (energy efficiency), efisiensi penggunaan air (water efficiency), perlindungan terhadap lingkungan (environmentla protection), kualitas fisik ruang dalam (inddor environmental quality), aspek hijau lainnya dan inovasi desain (other green features and innovation). (Arsitektur Hijau, Tri Harso Karyono, 2010)

Sektor penting yang sangat berpengaruh dalam konsep arsitektur hijau adalah pelestarian sumber daya alam, diantaranya adalah penggunaan energi BBM. Bangunan berperan sebagai alat untuk mencapai kenyamanan fisik manusia dengan cara memodifikasi lingkungan alamiyah yang tidak diinginkan menjadi lingkungan buatan yang nyaman. Bangunan merupakan 'filter' (penyaring) faktor-faktor alamiah yang menyebabkan ketidaknyamanan: hujan, terik matahari, angin kencang, udara panas tropis agar tidak masuk ke dalam rumah.

Untuk memodifikasi faktor iklim yang tidak dikehendaki tidak sedikit bangunan harus dilengkapi dengan peralatan mekanis. Udara luar yang panas dimodifikasi oleh bangunan dengan bantuan mesin AC menjadi udara dingin. Dalam hal ini dibutuhkan energi listrik untuk menggerakan mesin AC. demikian juga halnya bagi penerangan malam hari atau ketika langit mendung, diperlukan energi listrik untuk lampu penerang.

Cukup banyak bangunan di Indonesia yang dirancang tanpa pertimbangan penghematan energi sehingga berkonsekuensi terhadap tingginya biaya operasional listrik setiap bulannya. Jika bangunan dirancang tanpa pertimbangan energi, maka kesulitan akan muncul dikemudian hari, yakni dalam hal menanggulangi beban operasional listrik yang tinggi serta emisi CO2 dari mesin pembangkit listrik yang menggunakan bahan bakar minyak bumi.

Penghematan energi melalui rancangan arsitektur mengarah pada penghematan penggunaan listrik, baik bagi pendinginan udara, penerangan buatan, atau peralatan listrik lain dalam bangunan. Bagaimana bangunan dirancang sedemikian rupa agar ruangan cukup terang tanpa banyak menggunakan lampu dan agar udara dalam ruang dapat sejuk tanpa bantuan mesin AC.

Bagaimana penerangan dan pendinginan udara dapat dilakukan secara alamiah tanpa menggantungkan peralatan listrik yang konsumtif terhadap energi yang bersumber dari energi fosil. Dengan strategi perancangan yang tepat, bangunan dapat memodifikasi iklim luar yang tidak nyaman menjadi iklim ruang yang nyaman tanpa banyak mengonsumsi energi listrik yang bersumber dari energi fosil.

Hemat energi sebagai bagian penting dalam usaha merancang arsitektur hijau lebih merujuk pada penghematan energi yang tidak terbarukan. Penghematan ini dapat berupa penekanan penggunaan energi (listrik) yang bersumber dari energi fosil, sebagian besar area kota tertutup material keras, suhu udara kota menjadi lebih tinggi dibanding kawasan rural di sekelilingnya. Fenomena yang sering disebut sebagai heat urban island ini menjelaskan bahwa area fisik kota seolah menjadi sebuah pulau yang memancarkan panas di tengah hamparan kehijauan kawasan rural. Bagaimana agar fenomena ini berkurang, dalam arti suhu udara kota tidak jauh berbeda dengan suhu udara kawasan rural atau desa sekitarnya.

Dalam proses fotosintesis di atas tampak bahwa sejumlah panas matahari digunakan untuk mengikat CO2 dengan air, akibatnya suhu udara disekitar tumbuhan turun. Dalam hai ini keberadaan tumbuhan secara langsung atau tidak langsung akan menurunkan suhu udara di sekitarnya, karena radiasi panas matahari akan diserap oleh daun untuk proses fotosintesis dan penguapan seperti terlihat pada reaksi fotosintesis tersebut. Dengan demikian, selain mengurangi CO2 dan meningkatkan O2, tumbuhan juga berfungsi menurunkan suhu udara kota, atau dengan kata lain menyejukkan kota.

Penelitian Parker dan Akbari di AS memperlihatkan penanaman pohon lindung di sekitar rumah tinggal akan menurunkan suhu udara sekitar 30 C, sehingga penggunaan energi listrik pada rumah tinggal yang ber-AC berkurang hingga sekitar 30%, karena secara teori penurunan suhu sekitar 10 C setara dengan penurunan energi sekitar 10%. Dapat disimpulkan penurunan udara hingga 30 C dapat dicapai jika ruang terbuka sekitar bangunan ditanami pohon pelindung, dengan pengertian halaman, jalan masuk kendaraan serta halaman parkir terlindung dari radiasi matahari.

Kesimpulan penelitian Parker dan Akbari di atas menunjukkan suatu gambaran kuantitatif mengenai kemampuan tumbuhan untuk mengurangi penggunaan energi pada bangunan di kota yang disebabkan oleh penurunan suhu di sekitar tumbuhan tersebut. Peran taman dan jalur hijau tamoak jelas di sini, bahwa jika taman dan jalur hijau tersebut ditanami cukup tumbuhan, maka penggunaan energi untuk pendinginan bangunan ber-AC pada kawasan kota akan berkurang karena menurunnya suhu udara kota akibat keberadaan tumbuhan tersebut.
(By: Agus Setiawan, ST)
100 out of 100 based on 99998 ratings. 1 user reviews.
Read More - Pengukuran dan Standar Green Architecture

Desain Rumah Minimalis Tropis

Desain rumah minimalis pada jaman sekarang ini memang lagi ngetren-ngetrennya  dan menjadi primadona desain rumah bagi sebagaian orang yang khususnya hidup di Indonesia. Rumah minimalis nayak digemari karena desainnya yang simpel. Meskipun dikenal dengan desain yang simpel, namun desain minimalis terlihat megah dan elegan. Bahkan meskipun desainnya menggunakan konsep minimalis, biaya yang dikeluarkan untuk membangunnya tidak mesti murah, bahkan bisa sangat mahal, tergantung dengan material bangunan yang digunakan.
Render and Concept © Agus Setiawan, ST

Namun, kadang desain rumah minimalis apabila ditempatkan di Indonesia yang memiliki iklim tropis dirasa kurang begitu bersahabat dengan iklim dan cuaca yang ada di Indonesia. Hal itu dikarenakan desain rumah minimalis kurang begitu maksimal dalam menangani cuaca ekstrim pada waktu musim hujan datang

Tapi untuk mengakali semua itu banyak dari kalangan Arsitek yang menggabungkan antara konsep desain minimalis dengan konsep desain rumah tropis. Desain gabungan tersebut sekarang ini lebih dikenal dengan nama Rumah Minimalis Tropis. Rumah Minimalis Tropis didesain dengan desain yang unik, karena rumah tropis dipadukan dengan desain rumah minimalis.

Untuk itu penulis artikel ini selaku seorang Arsitek Junior mencoba untuk mendesain Rumah Minimalis Tropis dengan gaya khas tropisnya. Karena rumah tropis lebih banyak menggunakan atap dan tritisan untuk mengatasi air hujan dan panas matahari. Untuk itulah penulis mencoba mendesain rumah minimalis tropis dengan cara menggabungkan atap rumah tropis dengan garis tegas ala desain minmalis yang banyak menggunakan dak beton sebagai tritisan dan tempiasnya.

Desain rumah ini juga sedikit menerapkan konsep green architeture dangan menempatkan tanaman-tanaman di depan rumah. hal ini dilakukan untuk menambah suplai oksigen dan menambah kesejukan rumah serta yang paling penting untuk menangkal radiasi panas matahari pada siang hari.

Selain itu juga untuk menangkal polusi udara dari luar seperti asap kendaraan bermotor dan debu dari jalanan. Tanaman tersebut selain berfungsi seperti tersebut di atas, juga berfungsi sebagai hiasan fasad dan menjadikan nilai estetika rumah yang menyatu dengan alam (back to nature). Karena bangunan identik dengan nilai garis yang terkesan kaku, maka tanaman berfungsi sebagai pelunaknya. Sebab tanaman memiliki sifat yang menenangkan.

Contoh desain di bawah ini adalah karya dari Agus Setiawan, ST seorang Arsitek Junior dari PT HEBSA INDONESIA, Jakarta.

Render and Concept © Agus Setiawan, ST
Render and Concept © Agus Setiawan, ST
Render and Concept © Agus Setiawan, ST
Semoga desain rumah minimalis tropis di atas bisa menjadi inspirsi desain bagi anda-anda semua khususnya bagi anda yang hidup di daerah tropis. Terimakasih.
100 out of 100 based on 99998 ratings. 1 user reviews.
Read More - Desain Rumah Minimalis Tropis

Rabu, Juli 04, 2012

Green Architecture (Arsitektur Hijau)

Green Architecture atau sering disebut sebagai Arsitektur Hijau adalah arsitektur yang minim mengonsumsi sumber daya alam, ternasuk energi, air, dan material, serta minim menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan. (Arsitektur Hijau, Tri Harso Karyono, 2010)
Green Architecture (Arsitektur Hijau)
Arsitektur hijau merupakan langkah untuk mempertahankan eksistensinya di muka bumi dengan cara meminimalkan perusakan alam dan lingkungan di mana mereka tinggal. Istilah keberlanjutan menjadi sangat populer ketika mantan Perdana Menteri Norwegia GH Bruntland memformulasikan pengertian Pembangunan Berkelanjutan (sustaineble development) tahun 1987 sebagai pembangunan yang dapat memenuhi kebutuhan manusia masa kini tanpa mengorbankan potensi generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri.

Keberlanjutan terkait dengan aspek lingkungan alami dan buatan, penggunaan energi, ekonomi, sosial, budaya, dan kelembagaan. Penerapan arsitektur hijau akan memberi peluang besar terhadap kehidupan manusia secara berkelanjutan. Aplikasui arsitektur hijau akan menciptakan suatu bentuk arsitektur yang berkelanjutan. Berikut ini adalah beberapa contoh gambar-gambar bangunan yang menggunakan konsep Green Architecture.
Prinsip-prinsip Green Architecture

Penjabaran prinsi-prinsip green architecture beserta langkah-langkah mendesain green building menurut: Brenda dan Robert Vale, 1991, Green Architecture Design fo Sustainable Future:

1. Conserving Energy (Hemat Energi)

Sungguh sangat ideal apabila menjalankan secara operasional suatu bangunan dengan sedikit mungkin menggunakan sumber energi yang langka atau membutuhkan waktu yang lama untuk menghasilkannya kembali. Solusi yang dapat mengatasinya adalah desain bangunan harus mampu memodifikasi iklim dan dibuat beradaptasi dengan lingkungan bukan merubah lingkungan yang sudah ada. Lebih jelasnya dengan memanfaatkan potensi matahari sebagai sumber energi. Cara mendesain bangunan agar hemat energi, antara lain:
  1. Banguanan dibuat memanjang dan tipis untuk memaksimalkan pencahayaan dan menghemat energi listrik.
  2. Memanfaatkan energi matahari yang terpancar dalam bentuk energi thermal sebagai sumber listrik dengan menggunakan alat Photovoltaic yang diletakkan di atas atap. Sedangkan atap dibuat miring dari atas ke bawah menuju dinding timur-barat atau sejalur dengan arah peredaran matahari untuk mendapatkan sinar matahari yang maksimal.
  3. Memasang lampu listrik hanya pada bagian yang intensitasnya rendah. Selain itu juga menggunakan alat kontrol penguranganintensitas lampu otomatis sehingga lampu hanya memancarkan cahaya sebanyak yang dibutuhkan sampai tingkat terang tertentu.
  4. Menggunakan Sunscreen pada jendela yang secara otomatis dapat mengatur intensitas cahaya dan energi panas yang berlebihan masuk ke dalam ruangan.
  5. Mengecat interior bangunan dengan warna cerah tapi tidak menyilaukan, yang bertujuan untuk meningkatkan intensitas cahaya.
  6. Bangunan tidak menggunkan pemanas buatan, semua pemanas dihasilkan oleh penghuni dan cahaya matahari yang masuk melalui lubang ventilasi.
  7. Meminimalkan penggunaan energi untuk alat pendingin (AC) dan lift.
2. Working with Climate (Memanfaatkan kondisi dan sumber energi alami)

Melalui pendekatan green architecture bangunan beradaptasi dengan lingkungannya. Hal ini dilakukan dengan memanfaatkan kondisi alam, iklim dan lingkungannya sekitar ke dalam bentuk serta pengoperasian bangunan, misalnya dengan cara:
  1. Orientasi bangunan terhadap sinar matahari.
  2. Menggunakan sistem air pump dan cros ventilation untuk mendistribusikan udara yang bersih dan sejuk ke dalam ruangan.
  3. Menggunakan tumbuhan dan air sebagai pengatur iklim. Misalnya dengan membuat kolam air di sekitar bangunan.
  4. Menggunakan jendela dan atap yang sebagian bisa dibuka dan ditutup untuk mendapatkan cahaya dan penghawaan yang sesuai kebutuhan.
3. Respect for Site (Menanggapi keadaan tapak pada bangunan)

Perencanaan mengacu pada interaksi antara bangunan dan tapaknya. Hal ini dimaksudkan keberadan bangunan baik dari segi konstruksi, bentuk dan pengoperasiannya tidak merusak lingkungan sekitar, dengan cara sebagai berikut.
  1. Mempertahankan kondisi tapak dengan membuat desain yang mengikuti bentuk tapak yang ada.
  2. Luas permukaan dasar bangunan yang kecil, yaitu pertimbangan mendesain bangunan secara vertikal.
  3. Menggunakan material lokal dan material yang tidak merusak lingkungan.
4. Respect for User (Memperhatikan pengguna bangunan)

Antara pemakai dan green architecture mempunyai keterkaitan yang sangat erat. Kebutuhan akan green architecture harus memperhatikan kondisi pemakai yang didirikan di dalam perencanaan dan pengoperasiannya.

5. Limitting New Resources (Meminimalkan Sumber Daya Baru)

Suatu bangunan seharusnya dirancang mengoptimalkan material yang ada dengan meminimalkan penggunaan material baru, dimana pada akhir umur bangunan dapat digunakan kembali unutk membentuk tatanan arsitektur lainnya.

6. Holistic

Memiliki pengertian mendesain bangunan dengan menerapkan 5 poin di atas menjadi satu dalam proses perancangan. Prinsip-prinsip green architecture pada dasarnya tidak dapat dipisahkan, karena saling berhubungan satu sama lain. Tentu secar parsial akan lebih mudah menerapkan prinsip-prinsip tersebut. Oleh karena itu, sebanyak mungkin dapat mengaplikasikan green architecture yang ada secara keseluruhan sesuai potensi yang ada di dalam site.
100 out of 100 based on 99998 ratings. 1 user reviews.
Read More - Green Architecture (Arsitektur Hijau)

Jumat, Juni 22, 2012

Paramos House Rumah Minimalis Portugal

Paramos House Rumah Minimalis di Espinho, Portugal. Gedung Paramos terletak di daerah pesisir utara Portugal, hampir 30km selatan Porto.Volumetrically, solusi ini menyajikan rumah tinggal sebagai permainan. Ini menyoroti sebuah artikulasi volume, dengan variasi antara permukaan buram dan kaca, menyesuaikan isi program dalam komposisi volumetrik hati-hati.

Saat volumetrik yang membedakan dari solusi ini adalah perumahan lift, yang berlangsung sebagai elemen vertikal komposisi, dan pintu masuk utama yang surut dari pertemuan dari dua fasad menciptakan gudang diukir.
Namun, zona sirkulasi, unsur kesatuan tata ruang di rumah, adalah tema utama dalam konsepsi volumetrik. Ini menandai pemisahan rumah menjadi dua volume, dengan mundur dalam kaitannya dengan fasad. Ini ilusi kesenjangan antara volume menyoroti desain dan komposisi ketinggian.


Secara spasial, ruang sirkulasi juga memiliki perlakuan yang berbeda memperkuat nilai dalam konsep desain. Ini momen transisi mengadopsi perlakuan permukaan yang berbeda, yang terkait dengan pencahayaan overhead terus menerus, memperkuat gagasan bagian, jalan.

Ini desain kontemporer yang mencolok berjalan di atas dan di luar model standar dan kanonik dari solusi yang biasa saat ini perumahan.

Hari-hari eksterior adalah keinginan rumah kontemporer dan dengan demikian, ruang-ruang sosial dari Gedung Paramos ditandai dengan ekstensi ke luar. Di daerah pribadi kaca besar dan balkon memiliki hak istimewa juga, memungkinkan kontak dengan eksterior dan membingkai perspektif dunia sekitar kita.
Photo courtesy of www.architizer.com

Konstruksi adalah pada struktur tradisional pilar beton dan balok dan lapisan eksterior pada dicat putih. Permukaan pintu masuk daerah tersebut dibedakan dengan kelongsong kayu. Ini solusi perumahan diberkahi dengan area berukuran murah hati dan diagram fungsional menunjukkan cara menghuni disesuaikan dengan cara-cara baru hidup kontemporer.


Ini terdiri dari tiga lantai di mana semua ruang sosial terletak lantai dasar, bidang swasta didistribusikan di lantai pertama, dan bidang teknis dan dukungan diposisikan di tingkat basement.

Photo courtesy of www.architizer.com

Tipe: Residential - Single family residence
Lokasi: Paramos, Espinho, Portugal
Status Bangunan: Dibangun pada tahun 2007
A project by:Atelier Nuno Lacerda Lopes, Architecture
(sumber asli: http://www.architizer.com/)
Read More - Paramos House Rumah Minimalis Portugal
Older Post ►